Biarkan Aku.

saat cinta ini tumbuh kembali,
aku tidak ingin ia menghilang lagi.
biarlah aku terus merasakan rasa ini
walau tanpa ujung.
biarkan aku terus mencintainya
sebagaimana Allah mencintainya.
biarkan aku semakin mencintainya
dalam rindu yang kian membara.
biarkan aku yang seperti ini.
biarkan aku terus mencintainya.
dan biarkan aku selalu berkeinginan
menemuinya di suatu saat nanti.
biarkan aku yang terus dan selalu mengaguminya
meski hanya dalam kumpulan kata.
biarkan aku bercita-cita
bertemu dengannya.
dan biarkan aku menjadi insan yang baik,
agar aku dapat bersua
dengan Tuhannya yang juga Tuhanku.
Dan biarlah aku terus bersungguh dengan cita-citaku.
untuk mengakhiri penantian
dan rindu yang telah terpendam sejak dahulu.
sebuah ujung penantian
untuk bertemu denganmu
yaa Rasulullah.

Kata yang Tertahan (?)

     Pagi. Tampaknya hujan bahagia sekali di pagi ini. Tak menunggu lama selepas subuh ia telah menampakkan suaranya. Sementara malam telah lama berlalu. Mengakhiri penantian atas sebuah kata-kata. Dan, yang terjadi kini adalah bunyi rintik air yang turun dari langit. Orang lain bisa tenang memandang hujan. Aku selalu senang saat hujan turun. Hanya saja ada yang terlewatkan. Mungkin bunyi hujan sedikit tergesa, karena memaksa air yang baru turun dari langit untuk segera tiba di tanah. Mungkin juga karena ternyata hujan terjadi di pagi hari. Yang berarti hari telah berganti.


#Salam------- (1)

Aku masih ingat perkenalan kita. Aku selalu menganggapnya sebagai cerita yang menarik. Ini tentang seorang akhwat yang kini sedang aktif-aktifnya di lembaga da'wah fakultas di universitas ternama di Jakarta.
Hari ini aku untuk pertama kali melihat rupa wajahnya. Ia yang lugu, polos dan sedikit pemalu. Hari ini ia memakai jilbab berwarna merah marun dengan jas almamater hitam. Untuk pertama kali juga aku menjejakkan kaki di kampusnya. Biasanya aku hanya mengisi waktu bersilaturrahim sebentar di masjid utama kampus ini, bukan ke fakultasnya.
Sekitar jam setengah tiga aku sampai di fakultasnya. Fakultas dengan warna makara putih. setelah kuparkir motor, aku langsung bergegas ke gedung tempat ia berada. Mungkinkah ia sudah menantikan kedatanganku? segalanya berjalan begitu saja. Aku yang diperkenalkan dengan sosoknya melalui kawan dekatku. Segala obrolan dan visi misi telah kami sampaikan satu sama lain. Secara garis besar aku sudah mengetahui latar belakang pendidikannya, juga tentang keluarganya. Namun percakapan itu hanya melalui teman kami dan hanya sebatas itu saja.
Kedatanganku ke kampusnya bukan semata ingin bertemu dengannya, kebetulan aku juga telah berjanji pada seorang teman untuk datang berkunjung ke sini. Dan bertepatan dengan acara fakultasnya. Dalam hati aku selalu berharap semoga niat ini tetap suci karena Allah, dan semoga Allah mempermudah setiap jalanku.
Kulangkahkan kakiku memasuki gedung itu. Ya, gedung yang kau instruksikan agar aku tidak tersasar di kampus putihmu ini. Padat. Ramai sekali antriannya. Aku tidak bisa bertemu denganmu jika terus ramai seperti ini. Akhirnya aku menyerah dan memilih untuk mengantri meskipun aku tepat berada di barisan terakhir antrian. Aku coba menelponmu, khawatir juga mengganggumu yang sudah lebih dahulu sibuk menikmati acara hari ini. Aku coba kirim pesan singkat ke nomormu. Sedikit lega karena kau membalasnya meski hanya dengan kata " tunggu ya" aku coba menelponmu lagi. Kali ini kamu angkat. Kamu mengatakan situasi di dalam sangat ramai dan bahkan sukar untuk sekedar keluar ruangan itu. Aku dengar suaramu tertahan di sana. Sepertinya sinyal tidak bisa berkompromi pada operatormu, entahlah, padahal operatorku denganmu sama.
Akhirnya aku putuskan panggilan telepon. Aku kirim pesan memberitahukan padamu aku akan sholat ashar terlebih dahulu karena baru saja adzan berkumandang. Akhirnya aku dengan temanku menuju mushola. Dalam kebingungan, aku masih sempatnya bertanya lagi padamu melalui telepon menanyakan lokasi mushola. Bodohnya aku.
Selesai sholat, aku langsung bergegas pergi keluar mushola dan bersiap mengantar temanku ke stasiun. Ia tidak jadi mengikuti acara yang diadakan fakultasmu itu. Dengan sedikit berharap kau telah ada di mushola, aku menoleh sekilas memastikan ada atau tidak adanya sosokmu di sana. Tidak ada yang menoleh kembali ke arahku. Mugkin dirimu masih di dalam gedung, pikirku. Aku langsung mengambil motor dan melintas pergi menuju stasiun kereta. Selama perjalanan hapeku terus bergetar, aku hanya tersenyum, rupanya kau mengkhawatirkanku. Langsung aku hilangkan pikiran itu jauh-jauh, khawatir mengotori niat awalku ke sini.
Aku hubungi hapemu. Kemudian kita bertemu dari kejauhan. Kau, dengan jaket almamater hitam dan jilbab merah marunmu yang melambai tertiup angin. Dalam penantianmu menunggu, dari sini aku melihatmu yang begitu anggun tersenyum melambaikan tangan padaku. Khawatir aku salah orang, kusapa kau dengan namamu. Kau tersenyum. Perlahan kau menuntunku dan menjelaskan tentang gedung yang sedang kita masuki. Kau bertanya dari mana aku singgah, aku jawab sekenanya. Hanya dua kata “Dari rumah” yang keluar dari lisanku. Perkiraanmu bahwa aku dari kampus adalah salah. Sekilas aku lihat ekspresi wajah kagetmu setelah tahu aku langsung dari rumah. Atau mungkin juga kau tidak enak hati karena lokasi rumahku dengan kampusmu yang lumayan jauh. Yah, tidak jauh juga sih, namun juga tidak dekat.

Selama waktu antrian itu, tidak ada kata yang dapat aku keluarkan. Entahlah, ada sesuatu yang menahan lisanku. Antara bingung dan menyesal, akhirnya aku putuskan untuk keluar antrian dan meninggalkanmu bersama temanmu yang masih di dalam antrian. Setelah agak jauh dari antrian, aku menoleh sekilas ke arahmu. Aku tak lihat wajah polos yang mencari-cari sosokku yang tiba-tiba hilang. Maaf aku keluar antrian tanpa bilang-bilang. Dan aku akhirnya sendiri dengan masih dalam kebingungan mencari-cari kantin karena kehausan. Mengapa aku tadi tidak bertanya padamu? 


Azalia :)


Ku lihat bintang-bintang

tersenyum saksikan kau merekah
sang kumbang datang hap.. hap.. hinggap perlahan
bunganya merekah, berkembang-kembang


Warnamu merah, merah

semerah danau di Katumiri 
aku melangkah tu, wa, ga, mendekati
betapa indahnya, ku suka..



Detik-detik waktuku kian berlalu
tak jemu aku memandangnya
detak-detak jantungku, berdenyut s'lalu 
ku jatuh hati memetiknya

Azalia kau bunga yang ku cinta..


Azaliaku.. Azaliaku..
Azalia kau bunga.. yang ku cinta..


Urusan Mu'min

Sungguh indah nian urusan orang-orang yang beriman, setiap urusannya adalah rahmat baginya.

"Sungguh mengagumkan urusan orang-orang mu'min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapa pun kecuali oleh seorang mu'min." (HR. Muslim)

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS.Muhammad:7)

Betapa Allah memudahkan jalan bagi orang yang betul-betul serius meluruskan niat untuk mencari ridha Allah.

Wallahu a'lam.


Laa takhof wa laa tahzan, Innallaha ma'ana :)

Seminggu lalu.

26 Desember

"yuk,bersama-sama memantaskan diri :D" ("Impian seorang muslimah bukan bertemu idolanya, tapi bertemu & bercengkrama dengan para penghuni surganya Allah. Yuk pantaskan diri :)" VVY )

"Masa muda usiaku kini.Warna hidup tinggal kupilih.Namun aku telah putuskan,hidup di atas kebenaran.
Masa muda penuh karya untukmu Tuhan,yang aku persembahkan sebagai insan beriman. #yeaahmasamuda"

"Kini,jelas tiap langkahku.Illahi jadi tujuanku.Apapun yang aku lakukan,islam selalu jadi pegangan. ^^9 #hayatiikulluhaLillah"

27 Desember

"Dan, begitulah adanya. Maaf telah banyak mengecewakan. Semoga semangat ini selalu tersemat. #HayatiikulluhaLillah"

28 Desember

"I will do my best! InsyaaAllah."

"Untuk ZN.Kutemukan (lagi) cinta itu melalui dirimu. Terima kasih yang aku ucapkan tak akan pernah cukup untuk membalasnya. Biarkan air kerohanian ini terus menyuburkan ikatan cinta kita. Aku sungguh mencintaimu."