Lama udah ane tunggu ni momentum. akhirnya nyampe juga. bentar lagi esji bakal naek kelas tiga dan otomatis itu sebagai signal buat kita nentui jurusan buat ke depannya. ane juga masih bingung. antara hobi dan masa depan yang cerah. antara yang umum dan yang syarí. antara ui dan lipia. halah. antara sastra dan juga hafalan qurán. antara belajar atau tilawah. antara tanggung jawab osis dan ibadah. semuanya rumit. setidaknya itu menurut ane. gak tau deh yang laen ngeliat ane kayak gimana di sini. hufft, semuanya pada mau ikut lomba lagi, dan ane tinggal duduk terdiam gitu aje bingung mau ngapain. ikut lomba belom pernah menang. itu dari yang diajuin sama sekolah maupun yang ane ngajuin diri sendiri buat ikut. parah. Liat bang mushab yang jago nulis ane makin minder aja. emang itu sih emang bakat dari kecil. gambar, pinter, sastra, idealis, ckckck kapan ane bisa kayak gitu ye? ckck yaudahlah, tapi ya beginilah ane. mau diapain juga dirubah tetep pribadi ane yang seperti ini. semuanya udah pada balik. ane juga mau balik ke masjid dulu noh baru azan. udah ya.

Berbicara Baik atau Diam.

Seorang yg bijaksana akan sllu berfikir panjang sebelum berbicara. Jika bicaranya dapat menimbulkan kemadlaratan, baik bagi dirinya atau org lain, maka ia akan lebih memilih b'sikap diam. Sebab diam itu bisa m'jauhkan fitnah & permusuhan. " Diam adalah Kebijaksanaan dan sedikit org yg mampu melakukannya ". (HR. Abu Manshur Ad-Dailamy). Mengingat bgtu besarx efek yg ditimbulkan oleh perkataan, maka diam adlh sikap mulia yg m'jadi kebiasaan para Nabi dan Wali Allah. Diam itu indah dan nikmat karen bisa menentramkan bathin dan menyedikitkan resiko yg bisa timbul akibat banyak bicara. Rasulullah saw menganjurkan utk b'gaul dgn org yg diam lagi berwibawa, sebab dia akan mengajarkan berbagai hikmah dan keutamaan. Seperti yg beliau jelaskan dalam sabdanya sbg berikut : ... " Apabila kamu melihat org mukmin yg pendiam lagi berwibawa, maka dekatilah dia. Sesungguhx dia akan mengajarkan hikmah ". (HR. Abu Hurairah, dari haditsnya Abi Khalad)

Cerita mabit kita di AlAdzom, ...dulu

Waktu itu pukul lima kurang sedikit, aku kurang ingat waktu tepatnya… saat itu aku putuskan untuk membaca AlQur’an sembari menunggu maghrib untuk berbuka puasa bersama dengan semua siswa di makjid atau maktabah jadiid yang untuk sementara waktu kami jadikan sebagai tempat bernaungnya ibadah para siswa. Targetku harus tercapai di ramadhan kali ini, itu tekad yang aku putuskan sewaktu mengawali ramadhan tahun ini. Tak terasa halaman demi halaman aku baca dan akhirnya aku hanyut dengan kesibukanku membaca kitab itu. Namun sewaktu aku membaca di pertengahan suatu surah, tiba-tiba aku teringat kembali kisah sewaktu aku mengalami masa-masa kecilku, namun yang terlintas hanyalah cerita tentang kegiatan mabit yang kuikuti di masjid raya AlAdzom… waktu datang ke masjid itu aku masih duduk di madrasah ibtidaiyah atau setingkat sekolah dasar. Aku datang tidak sendiri, bersama dengan ummi, kedua adik lelakiku, temanku, adik perempuan temanku, serta umminya. Masih kuingat pakaian yang dipakai aku, temanku, serta adik perempuanku adalah baju gamis yang memiliki pola yang sama karena memang kami memesan baru gamis ini bersama-sama di teman ummi yang memang menerima pesanan jahitan. Waktu kami datang tiba-tiba ada seorang akhwat yang mengatakan seperti ini “subhanallah ada anak kembar….” Mungkin ia takjub dan mengira bahwa kami adalah anak kembar, padahal kami hanya mengenakan baju gamis yang sama. Akhirnya kami yang polos waktu itu hanya bisa senyum-senyum dan tertawa senang tanda kami bahagia disebut anak kembar. Memang sebenarnya kami itu nyaris seperti anak kembar, bahkan tanggal lahir kami kamipun sangat berdekatan yaitu hanya bertaut 2 hari pada bulan dan tahun yang sama. Dan satu yang membedakan kami adalah ia merupakan seorang kakak kelas satu tingkat di atasku. Aku sangat dekat sekali dengannya, kami seperti memiliki suatu telepati yang membuat kami kian hari semakin dekat. Sebenarnya acara mabit kali itu juga disertai dengan ruq’yah yang dipimpin oleh seorang ustadz, aku lupa waktu itu siapa nama ustadznya. Pada sore menjelang maghrib, aku bertemu dengan teman kelasku yang bernama Haikal, dari isya kami menghabiskan waktu bersama dengan bermain main di sekitar masjid bagian luar juga dengan kedua adikku dan adik perempuan Lulu, nama temanku itu. Namun kami sangat kaget saat mendengar suara banyak orang yang berbondong-bondong berusaha memasuki pintu masjid yang terasa tak muat menanggung banyak orang itu.
Astaghfirullah, ternyata ada yang bereaksi sesaat setelah seorang ustadzah membacakan beberapa ayat. Kami ketakutan saat itu karena memang dulu kami memandang itu adalah suatu hal yang menyeramkan dan menegangkan. Setelah kami semua bisa menenangkan orang yang bereaksi itu kamipun mengerti sedikitnya tentang ruq’yah dan yang menyebabkannya. Ternyata faktor pikiran dan mentallah yang paling berpengaruh dalam masalah ini. Ya, memang, karena ini akan sangat berkaitan dengan diri seseorang. Jadi pada waktu itu aku menyimpulkan bahwa aku harus menjadi seseorang yang memiliki ketahanan iman dan mental yang kuat sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam lubang keterpurukan dalam hidupku, khususnya dalam agamaku. Hmm,, hanya sekali kami mengikuti mabit yang disertai dengan ruq’yah di sana. Untuk mabit yang selanjutnya tidak pernah mengikuti yang ada ruq’yahnya, dan lagi sepertinya memang belum pernah lagi diadakan. Hmm, tapi aku teringat mabit yang lain. Ini sepertinya bukan mabit, hanya seperti pertemuan biasa antar ummat islam untuk menjalin silaturrahmi. Namun kali ini aku bertemu dengan temanku yang lain yaitu Ja’far ,tapi diawali bertemu dengan kakak lelakinya yang bernama ka Faqih serta adik perempuannya yang bernama Wafa. Lalu aku bertemu juga dengan Haikal lagi, dan juga dengan teman kelasku Azimah. Kami menghabiskan waktu itu dengan perasaan yang sungguh sangat senang.. waktu itu mungkin aku adalah anak kecil yang sangat polos yang bila bertemu dengan temanku yang lain pasti kami akan melakukan suatu permainan yang sangat menyenangkan.. teman, aku rindu waktu itu… waktu kita berkumpul bersama, …dulu.


23.00 wib
Pandeglang, 080811
Maja

Sepi Sendiri itu Ramai....

Sepi sendiri itu ramai.

Begitu katanya,
Entah dapat mengartikan perasaan apa,

Aku tak mengerti

Kadang kuterbawa emosi akhirnya

Mendengar suara caci maki akan kebaikan yang telah terbalaskan dengan kata yang tak bisa disandingkan dengan kebaikan itu.

Balasan yang tak semu, bahkan sangat nyata.

Aku menutup telinga malam itu.
Apa kalian sadari?
Di sana seorang insan tengah berusaha mempelajari ilmu yang kalian selalu junjung tinggi itu.
Tapi kalian tetap tak acuh

Ingin ku melepas selimutku seketika.

Tapi aku tak meremehkan kalian sehingga kumemilih untuk bertahan

Malam itu, sekali lagi

Seorang insan memohon satu hal
Memohon suatu keseimbangan dalam segala hal.

Keseimbangan dalam dua kubu yang berbeda
Karena ia tahu,tak akan ada habisnya


Jika tetap terdiam.


Indo class hall c
141011