Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Maidany - Jangan Jatuh Cinta tapi Bangun Cinta

Di sini pernah ada rasa simpati
Di sini pernah ada rasa menggagumi
Rasa ingin memiliki
Memasukkanmu ke dalam hati ini

Menjadi penghuni...
Mencoba berlindung di balik fitrahnya hati
Untuk mencari pembenaran diri...
Namun Ternyata semua hanya permainan nafsu

Untuk memburu cinta yang semu
Aku Tertipu...
Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang pernah ku tanam

Aku ingin rasa cinta ini
Masih menjadi cinta perawan
Cinta yang hanya aku berikan
Saat ijab qabul telah tertunaikan

Tuhanku berikanku cinta yang Kau titipkan
Bukan cinta yang pernah ku tanam 

E.n.g.k.a.u = H.a.m.o.e.z.i

Dini hari,
Kuulas senyum terbaikku.
mengamati perlahan sajak milikmu.
Kau tak akan pernah tahu seberapa aku peduli
sepenggal kisah yang belum kembali.
Juga tentang harapan
dirimu, pasti.


2014

1. Aku= Dia, 2. Dia.

Hei, ada apa dengan hati?
Sudahkah kamu penuhi hak-haknya?
Sudahkah kamu beri ruang untuk Rabbmu di sana?
Atau hanya kau penuhi dengan bunga-bunga dunia yang kamu banggakan?
Hei, kapankah kamu merasa setenang bidadari?
Sedang kamu tak mengharapkan nikmat dunia berlebihan?
Harus ke mana kamu menemukan jalan yang pernah kamu lewati itu?
Jalan panjang  yang lurus dan nyaman.
Kamu tidak akan menemukan musuh-musuh yang mengintai satu pun.
Ya, karena kamu telah menang sebelum bertanding dengan mereka.
Kamu telah mengalahkan nafsumu atas dunia.
Ya, dulu.
Kini, ke manakah rasa aman itu?
Ketenangan yang abadi telah sedikit tergantikan dengan dunia.
Ah ya, betapa dunia itu melenakan.
Bahkan hingga hatimu. Tertipu.
Kamu memenangkannya. Dengan caramu.
Cara yang menyakiti orang lain.
Kamu puji yang lain, sedang kau luput atas saudaramu di sini.
Ya, menangis karena merasa berdosa.
Itu yang temanmu lakukan.
Kamu menyakiti hatinya.
Perasaannya.
Aku tahu kamu tak ingin menyakiti hatinya.
Menyakiti hati yang kau ‘cintai’ itu.
Karena aku tahu kenyataan rasa di hatimu.
Kau yang mengatakannya, juga terpancar dari wajahmu yang merona.
Kata-katamu yang mencoba bersembunyi dari ‘rasa’ nyata itu.
Kamu maki dia dengan kosakata yang sangat ‘halus’.
Kamu lakukan itu di depan forum yang amat dicintainya.
Padahal sungguh dia hanya mencoba peduli pada ‘mereka’.
Kamu membelanya. Dengan menyakiti saudaramu di sini.
Kamu lebih mencintainya dibandingkan saudaramu yang di sini.

Kamu lebih mencintainya, hingga lupa dengan yang di sini…


BA dan EMS yang Baik Hati

Tiba-tiba cinta datang kepadaku. Saat kumulai mengerti cinta..
tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama...

eiittss salah playlist. haha
oke, di sini cuma mau ngeluarin pemikiran aja. #halah
maksudnya mau nulis puisi gitu. oke, check it out!

"Dan kamu tepaku saat ada namanya dalam daftar
 bagimu itu sesuatu yang tidak asing
 lalu kamu melihatku terduduk kaku
 menerima telapak tanganmu yang terbuka bersiap
 tanpa sadar, kamu yang terus memulainya.
 Meniatkan dalam diri suatu kebaikan yang memberi arti
 aku terkesiap, kaget atas kejutanmu.
 kejutan yang kamu buat bersama orang lain
 untuk aku yang menunggu
 satu, dari kamu."

Jazakumullah ahsanal jazaa kepada BA dan EMS yang sudah meniatkan hal tersebut. :)

Unpredictable!

Namanya sudah cukup menggambarkan status yang disandang olehnya.
Seorang anak yang sangat mencinta
Aku terlalu kagum dibuatnya
Hingga terlupa bahwa kami setara
      Dunia memang tak pernah sama
      Amanah yang diberikanpun tak pernah salah memilih
      Siapa yang sangka akan menjadi lagi?
      Di luar skenario, kau dan aku menyulam kembali kisah 'kita'
Ternyata memang,
Akan ada yang semakin terselimuti
Aku, kamu, mereka, bahkan di luar naskah ini
Mungkin saja tersenyum geli
Melihat jalannya kepercayaan yang hinggap
Siapa yang sangka?
Aku yang tak memilih ternyata terpilih.
Bahkan untuk sesuatu yang lebih asing dari yang aku anggap asing.
      kau bicara lagi,
      Allah tak pernah memberikan amanah pada orang yang salah.
      kau benar, mari kita lanjutkan sulaman yang sempat terhenti itu!

Di kelas. Beside pujangga = Ratih Rahayu.

Ingat tentang janjiku dulu
Malu sekali terhadap satu karya itu
Ah, aku ini bukan pujangga
Karena aku tidak bisa berpuisi
dan juga sepuitis para pujangga
Aku ingin. Tapi, terlalu banyak tapi di sini.
Aku ingin mengulang tentang pembahasan. ekonomi?
Aku bimbang atas yang terjadi
Aku cinta di tempat ini.
Tempat para pujangga berkarya dan beraksi
ah, tapi sekali lagi, berapa banyak kata tapi yang harus kukatakan
Mampukah aku menjadi layaknya mereka yang tanpa tapi?
Ah, lagi-lagi.

Biarkan Aku.

saat cinta ini tumbuh kembali,
aku tidak ingin ia menghilang lagi.
biarlah aku terus merasakan rasa ini
walau tanpa ujung.
biarkan aku terus mencintainya
sebagaimana Allah mencintainya.
biarkan aku semakin mencintainya
dalam rindu yang kian membara.
biarkan aku yang seperti ini.
biarkan aku terus mencintainya.
dan biarkan aku selalu berkeinginan
menemuinya di suatu saat nanti.
biarkan aku yang terus dan selalu mengaguminya
meski hanya dalam kumpulan kata.
biarkan aku bercita-cita
bertemu dengannya.
dan biarkan aku menjadi insan yang baik,
agar aku dapat bersua
dengan Tuhannya yang juga Tuhanku.
Dan biarlah aku terus bersungguh dengan cita-citaku.
untuk mengakhiri penantian
dan rindu yang telah terpendam sejak dahulu.
sebuah ujung penantian
untuk bertemu denganmu
yaa Rasulullah.

Kata yang Tertahan (?)

     Pagi. Tampaknya hujan bahagia sekali di pagi ini. Tak menunggu lama selepas subuh ia telah menampakkan suaranya. Sementara malam telah lama berlalu. Mengakhiri penantian atas sebuah kata-kata. Dan, yang terjadi kini adalah bunyi rintik air yang turun dari langit. Orang lain bisa tenang memandang hujan. Aku selalu senang saat hujan turun. Hanya saja ada yang terlewatkan. Mungkin bunyi hujan sedikit tergesa, karena memaksa air yang baru turun dari langit untuk segera tiba di tanah. Mungkin juga karena ternyata hujan terjadi di pagi hari. Yang berarti hari telah berganti.


Azalia :)


Ku lihat bintang-bintang

tersenyum saksikan kau merekah
sang kumbang datang hap.. hap.. hinggap perlahan
bunganya merekah, berkembang-kembang


Warnamu merah, merah

semerah danau di Katumiri 
aku melangkah tu, wa, ga, mendekati
betapa indahnya, ku suka..



Detik-detik waktuku kian berlalu
tak jemu aku memandangnya
detak-detak jantungku, berdenyut s'lalu 
ku jatuh hati memetiknya

Azalia kau bunga yang ku cinta..


Azaliaku.. Azaliaku..
Azalia kau bunga.. yang ku cinta..


Belajar dari Huruf. Kita

Kita.
Belajar dari huruf.
Hurufmu dan hurufku tentu berbeda.
Berawal dari perbedaan itu kita berbagi.
Dari huruf, kita beralih ke kata.
Bukan, Kau langsung loncat ke kalimat.
Itu setara, pikirku.
Lalu, kita bertemu di serentetan kalimat.
Bersama, merangkainya hingga menjadi satu paragraf.
Entahlah, kini sudah berapa bab cerita terbentuk.
Namun, ini belumlah usai.
Masih banyak kata yang belum kita cantumkan di dalam cerita ini.
Semoga kisah ini tiada akhir.
Jikapun ada akhir, aku akan buat bahagia di akhir.
Aku bersyukur, Allah mempertemukan huruf kita yang berbeda.

Rasa ya?

Hei, bagaimana kabarmu?
Beberapa waktu lalu aku melihat pujangga melintas di hadapan
Ya, sama seperti pagi ini.
Alunan musik yang terdengar juga seperti mengiringiku
Ketika aku melintas, ketiga lainnya beriring. Ada Satu
Diri yang baru menampakkan harapan lagi.
Ingatanku tentang kunjungan yang kesekian kali.
Pohon dan jalan setapak menjauh dari penglihatan
Sorot fokus menjadi menerawang seketika
Ah,
Aku selalu iri dengan mereka
Para sosok hebat dari masa lalu
Masa lalu?
Tentu.
Bukankah setahun kemarin adalah masa lalu?
Hingga perhitungan sekonmu yang telah berlalu juga adalah masa lalu.
Ah ya,
Seorang kawan lama telah datang
Seperti tawaran bagi seorang pecandu.
Ia kemudian membawa pergi harapan tentangnya
Meninggalkan keraguan yang menjadi pucuk
Menyisakan ingatan tentang gambaran diri
Sebuah potret atau siluet ?
Biarlah itu menjadi rahasia.
Rahasia milikku tentang rupamu, kemarin.
Rupa yang diam-diam aku simpan untuk dibuka nanti,

Pada waktunya.

Tahu

Baru saja terbaca,
secara tidak sengaja.
Semoga Allah memudahkan setiap jalannya. Aamiin

Aku ingin.

Aku ingin dekat
Selalu saja surat-Mu membuatku tertarik
Saat senggang, terkadang ia jadi penawar
Pelipur batinku dalam bersemangat
Sudah terlanjur dalam rasa

Terkadang, apa yang kita ingin lakukan dapat menjadi hambatan dari keinginan lain. Hanya Allah yang dapat menumbuhkan kesadaran diri yang haqiqi. Bertekad untuk kebaikan diri, tentunya harus dimulai dari sekarang.
Aku ingin
aku ingin.
aku ingin..
aku ingin...

aku

Ingin bisa menjadi muslimah terbaikMu.
Aamiin.InsyaAllah


Tentang Kesadaran~

Random, 
ringanmu tetap mengusik
pada sekilas pita yang kekal
tetap, masih mengalun

Masa,
tentang empat puluh bulan yang tersia
juga pudar ketergantungan 
di sini, aku berhenti

Misi,
tentu melodi kian berdetak
langkah abu dalam sepekan
mampu tegakkan cita

Kini,
kamu terlihat di kejauhan
bingung mencari pita yang hilang
sampai kapan ingin mencari?

Rindu,
baru tersadar rasa menuju
setiba di pengertian suatu rahasia
kita, berlalu...

Hukum Diri

Teronggok hitam di atas putih
Pelajari hukum dalam kehidupan
Kesabaran wujudkan rindu pada-Mu

Kala tersentuh malam
Teringin mengulang masa
Agar noda tak menyikut hati
Atas kehidupan yang mumpuni

Berbicara kuasa mutlak pasti
Kepemilikan yang selalu Esa
Hanya angin dingin ku raih
Saat mata hati yang rindu KERUH…!

Cerita kian bersambut
Torehkan asa bercita bersaratkan cinta
Ku seonggok daging lemah
Hanya jiwa yang tak kenal CUKUP
Bersarang keadaan yang berkelanjutan
Dalam sadar terlupa jua
Kuatku atas rasa kalbu diri
Tanda hati yang mulai berujar-kembali
Tak terkenang yang pernah terjadi
Ingin terus mengundang indah nyata
Tak mau termakan goda

Apapun ada dan kepuasan tersendiri
Tersudut merutuk menuntut maju
Kapan terakhir diri tak terlukai?
Atas kealpaan hati insan Illahi
Mengisahkan kisah hampa-lapar
Satu hati nyaris mati!
Hampir tak terkendali nyawa
Raga tak kuasa penuh
Kapan terakhir kau ingat lagi?
Tak bisakah tersadar meski ragu
Tergugah ketika takut sergap mati
Sudahkah cerita kita berakhir?
Hingga kutersadar aku masih di sini