Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Di kelas. Beside pujangga = Ratih Rahayu.

Ingat tentang janjiku dulu
Malu sekali terhadap satu karya itu
Ah, aku ini bukan pujangga
Karena aku tidak bisa berpuisi
dan juga sepuitis para pujangga
Aku ingin. Tapi, terlalu banyak tapi di sini.
Aku ingin mengulang tentang pembahasan. ekonomi?
Aku bimbang atas yang terjadi
Aku cinta di tempat ini.
Tempat para pujangga berkarya dan beraksi
ah, tapi sekali lagi, berapa banyak kata tapi yang harus kukatakan
Mampukah aku menjadi layaknya mereka yang tanpa tapi?
Ah, lagi-lagi.

Kata yang Tertahan (?)

     Pagi. Tampaknya hujan bahagia sekali di pagi ini. Tak menunggu lama selepas subuh ia telah menampakkan suaranya. Sementara malam telah lama berlalu. Mengakhiri penantian atas sebuah kata-kata. Dan, yang terjadi kini adalah bunyi rintik air yang turun dari langit. Orang lain bisa tenang memandang hujan. Aku selalu senang saat hujan turun. Hanya saja ada yang terlewatkan. Mungkin bunyi hujan sedikit tergesa, karena memaksa air yang baru turun dari langit untuk segera tiba di tanah. Mungkin juga karena ternyata hujan terjadi di pagi hari. Yang berarti hari telah berganti.


Belajar dari Huruf. Kita

Kita.
Belajar dari huruf.
Hurufmu dan hurufku tentu berbeda.
Berawal dari perbedaan itu kita berbagi.
Dari huruf, kita beralih ke kata.
Bukan, Kau langsung loncat ke kalimat.
Itu setara, pikirku.
Lalu, kita bertemu di serentetan kalimat.
Bersama, merangkainya hingga menjadi satu paragraf.
Entahlah, kini sudah berapa bab cerita terbentuk.
Namun, ini belumlah usai.
Masih banyak kata yang belum kita cantumkan di dalam cerita ini.
Semoga kisah ini tiada akhir.
Jikapun ada akhir, aku akan buat bahagia di akhir.
Aku bersyukur, Allah mempertemukan huruf kita yang berbeda.

Rasa ya?

Hei, bagaimana kabarmu?
Beberapa waktu lalu aku melihat pujangga melintas di hadapan
Ya, sama seperti pagi ini.
Alunan musik yang terdengar juga seperti mengiringiku
Ketika aku melintas, ketiga lainnya beriring. Ada Satu
Diri yang baru menampakkan harapan lagi.
Ingatanku tentang kunjungan yang kesekian kali.
Pohon dan jalan setapak menjauh dari penglihatan
Sorot fokus menjadi menerawang seketika
Ah,
Aku selalu iri dengan mereka
Para sosok hebat dari masa lalu
Masa lalu?
Tentu.
Bukankah setahun kemarin adalah masa lalu?
Hingga perhitungan sekonmu yang telah berlalu juga adalah masa lalu.
Ah ya,
Seorang kawan lama telah datang
Seperti tawaran bagi seorang pecandu.
Ia kemudian membawa pergi harapan tentangnya
Meninggalkan keraguan yang menjadi pucuk
Menyisakan ingatan tentang gambaran diri
Sebuah potret atau siluet ?
Biarlah itu menjadi rahasia.
Rahasia milikku tentang rupamu, kemarin.
Rupa yang diam-diam aku simpan untuk dibuka nanti,

Pada waktunya.

Sepi Sendiri itu Ramai....

Sepi sendiri itu ramai.

Begitu katanya,
Entah dapat mengartikan perasaan apa,

Aku tak mengerti

Kadang kuterbawa emosi akhirnya

Mendengar suara caci maki akan kebaikan yang telah terbalaskan dengan kata yang tak bisa disandingkan dengan kebaikan itu.

Balasan yang tak semu, bahkan sangat nyata.

Aku menutup telinga malam itu.
Apa kalian sadari?
Di sana seorang insan tengah berusaha mempelajari ilmu yang kalian selalu junjung tinggi itu.
Tapi kalian tetap tak acuh

Ingin ku melepas selimutku seketika.

Tapi aku tak meremehkan kalian sehingga kumemilih untuk bertahan

Malam itu, sekali lagi

Seorang insan memohon satu hal
Memohon suatu keseimbangan dalam segala hal.

Keseimbangan dalam dua kubu yang berbeda
Karena ia tahu,tak akan ada habisnya


Jika tetap terdiam.


Indo class hall c
141011