Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

E.n.g.k.a.u = H.a.m.o.e.z.i

Dini hari,
Kuulas senyum terbaikku.
mengamati perlahan sajak milikmu.
Kau tak akan pernah tahu seberapa aku peduli
sepenggal kisah yang belum kembali.
Juga tentang harapan
dirimu, pasti.


2014

BA dan EMS yang Baik Hati

Tiba-tiba cinta datang kepadaku. Saat kumulai mengerti cinta..
tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama...

eiittss salah playlist. haha
oke, di sini cuma mau ngeluarin pemikiran aja. #halah
maksudnya mau nulis puisi gitu. oke, check it out!

"Dan kamu tepaku saat ada namanya dalam daftar
 bagimu itu sesuatu yang tidak asing
 lalu kamu melihatku terduduk kaku
 menerima telapak tanganmu yang terbuka bersiap
 tanpa sadar, kamu yang terus memulainya.
 Meniatkan dalam diri suatu kebaikan yang memberi arti
 aku terkesiap, kaget atas kejutanmu.
 kejutan yang kamu buat bersama orang lain
 untuk aku yang menunggu
 satu, dari kamu."

Jazakumullah ahsanal jazaa kepada BA dan EMS yang sudah meniatkan hal tersebut. :)

Unpredictable!

Namanya sudah cukup menggambarkan status yang disandang olehnya.
Seorang anak yang sangat mencinta
Aku terlalu kagum dibuatnya
Hingga terlupa bahwa kami setara
      Dunia memang tak pernah sama
      Amanah yang diberikanpun tak pernah salah memilih
      Siapa yang sangka akan menjadi lagi?
      Di luar skenario, kau dan aku menyulam kembali kisah 'kita'
Ternyata memang,
Akan ada yang semakin terselimuti
Aku, kamu, mereka, bahkan di luar naskah ini
Mungkin saja tersenyum geli
Melihat jalannya kepercayaan yang hinggap
Siapa yang sangka?
Aku yang tak memilih ternyata terpilih.
Bahkan untuk sesuatu yang lebih asing dari yang aku anggap asing.
      kau bicara lagi,
      Allah tak pernah memberikan amanah pada orang yang salah.
      kau benar, mari kita lanjutkan sulaman yang sempat terhenti itu!

Kisah Hidup #1

Festival Bulan Bahasa Indonesia ( FALASIDO)
        Tanggal 28,29,30 Oktober kemarin fakultas mengadakan festival bulan bahasa, namanya Falasido. Dalam acara ini ada dua kegiatan, yaitu seminar dan lomba-lomba. Seminar diisi oleh bapak Sapardi Djoko Damono, Darwis Tere Liye, dan beberapa bintang tamu lainnya. Untuk kegiatan lomba, ada berbagai macam mata lomba. Ada lomba WNA bernyanyi, lomba teater, lomba musikalisasi puisi, kuis super kata, cerita kilat, dan lomba desain kaos. Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan cukup lancar.

GUESS (Get Unforgotable Experience and Islamic Spirit)
       Pada acara Guess ini, ana hanya sebagai peserta. Acara guess ini merupakan acara dauroh fakultas yang diadakan di Bogor. Berdasarkan perjalanan hingga terlaksananya agenda ini, ana mengambil kesimpulan bahwa acara ini berfungsi untuk menyatukan setidaknya sebagian besar muslim FIB. Di acara ini, banyak kegiatan yang dilakukan oleh maba yang merupakan pesertanya. Kegiatan lomba masak, seminar, training motivasi, hingga naik gunung untuk menuju curug yang jaraknya hmmmm bisa dibilang sangat sangat jauh, dan perjalanan menuju curug dilakukan dengan berjalan kaki. T.T
     Selepas semua agenda itu, para panitia dan peserta bersiap untuk acara penutup. Dikumpulkanlah semuanya di auditorium villa. Pada saat terakhir, majulah ketua Formasi untuk berbicara tentang FMA atau forum muslim angkatan. Tentang FMA ini, sedikit banyak ana sudah mendengar infonya dari senior, tapi perihal bagaimana mekanisme jalannya forum ini ana belum terlalu mengerti. Setelah penjelasan singkat dari Kak Anca, ternyata dilakukan pemilihan masul dan masulah FMA untuk angkatan ana.
FMA
        Tak ada sedikitpun keinginan untuk mengajukan diri sebagai masulah. Namun untuk syiar atau dakwah, ana sangat bersedia. Hehehe. Karena menurut pandangan ana, orang yang tepat untuk menjadi masulah adalah yang memiliki kepribadian yang cukup kuat dan berani menegakkan syiar serta dapat merangkul berbagai elemen mahasiswa di fakultas. Untuk beberapa kriteria mungkin ana berpeluang, namun tetap saja ada kurang yang masih harus diperbaiki lagi. Semua pun menutup mata untuk yang ingin mengajukan diri. Setelah sesi pengajuan diri itu, tibalah saat pengajuan untuk orang lain. Pada saat itu yang dipilih duluan adalah untuk masul ikhwan. Ada beberapa nama disebut oleh anak ikhwan, ada juga yang namanya disebut hingga oleh beberapa ikhwan, mungkin saking berpotensinya ia.
        Sekarang giliran pengajuan untuk akhwat. Ada teman seprodi yang mengajukan nama teman prodiku juga. Kemudian calon lain yang dipilih adalah… “Khaulah kak….” Deg , ana langsung kaget nengok ke belakang mencari asal suara. Waduh siapa itu yang mengajukan ana? Akhirnya kami yang mengajukan diri dan diajukan pun digiring ke luar untuk ditanyai dan diberi penjelasan, sedangkan kawan-kawan di dalam bermusyawarah menentukan masul dan masulah FMA ini. Selama penjelasan di luar itu, sebenarnya ana bingung antara menerima dan tidak, tapi pikir ana, yah belum tentu juga kan terpilih. Hehe.

     Setelah selesai penjelasan itu, kami, para calon kembali memasuki audit villa. Ternyata sedang diumumkan pemenang dari tiap lomba. Ada yang menang lomba memasak, akhwat terbaik, dan juga kelompok terbaik. Tidak lama setelah itu, tibalah pengumuman nama masul dan masulah FMA 2013. “Dan barokallah untuk akh Esa dan ukh Khaulah yang terpilih menjadi masul dan masulah FMA 2013..” haaaaaa? ._. seketika bingung harus ngapain. Maklum, dulu di SMA memang tidak ada yang namanya rohis, otomatis dalam hal gerakan syiar ana masih sangat awam.
       Tapi, Bismillah. Itu semua kembali ke semangat dan niat dalam diri. Semoga dengan terpilihnya ana menjadi masulah FMA, bisa semakin menjadikan diri ini bermanfaat bagi orang banyak. InsyaaAllah...

Semangat menebar manfaat! :)


It's Cathanofta- Change the Age not Follow the Age!

They said: Me= concert,talkative,impressionable,peeve,nice,care. Thanks :)

itu semua mereka loh yang mengatakan. anak-anak Cathanofta :)
thank you so much! I'll be better, insyaAllah :):)

here we are!


habis lomba 17-an :D


Iftor jama'i :)


hehe ini pas lomba folksong 17-an tahun ini, and we are the winner!!! :D

the members are:

Abdullah Syafi'i
Agung Muhamad Dermawan
Aisyah Naqiyyah
Dalatina Peloggia Gustianingsih
Eraria Rahmatillah
Farid Farhan Rasyid
Fajar Rizkullah Amin
Indah Dwi Pratiwi
Irham Naufal Fadhila
Khaulah Naqiyyah Farhana
Muhammad Abdul Aziz
Nurhayati Nufus
Sarah Fadhilah Safitri
Tb. Muchtar Ikmal Kamaludin

Alhamdulillah... Resensi Diterima. ^^

Berawal dari penawaran Bu Hamidah selaku guru bahasa indonesia di sekolah ana tentang keikutsertaan ana sama itu lomba resensi buku Denny JA "Atas nama cinta"(liat posting blog tanggal 11 Mei). Ana akhirnya ikut, ya karena juga mau nguji mental untuk yang kesekian kalinya -_-
Awalnya ana memang malas, karena yaa gitu, ana masih belum pede sama tulisan ana sendiri.ckck payah ya, ini mah namanya menyerah sebelum berperang. Tapi akhirnya ana coba dan akhirnya jadilah dua setengah halaman A4 yang ana ketik sesuai dengan ketentuan tertulis dari peraturan lomba itu. Ya meskipun itu masih lumayan jauh sih sama ketentuan maksimal halaman resensinya(2-4 halaman). yang pasti ana udah coba nulis dan berusaha semampu ana. Hari pengumuman pemenang yang rencana dilaksanakan tanggal 20 Mei ditunda, jadinya tanggal 3 Juni kemarin. Agak pesimis juga sih, karena ternyata Ida temen ana satu sekolah yang juga ikut lomba ini buat resensi sebanyak 4 halaman, ckckck waduh ana jadi hopeless dah.
Tibalah hari pengumuman yang bertempat di Mutiara Carita Cottage Labuan-Banten. Toeeew ane kaget, ternyata yang ikut itu lomba ada 100 lebih anak smp dan sma di wilayah Banten, meskipun kebanyakan dari daerah Pandeglang dan Labuan sih. Tetep aja cukup buat ana spot jantung(gak deh, becanda doang hihi^^) akhirnya acara dimulai. Diawali sama sambutan-sambutan yang berjalan sampai sekitar jam 10-an, dilanjutkan dengan bedah buku yang berjalan sampai dengan pukul 12.30. Setelah itu ada ishoma. Selesai ishoma, ada acara menonton bersama film dari puisi Romi dan Juli dari Cikeusik. dan teretetettet tibalah waktu pengumuman. Ana sama Ida udah sama-sama cemas, kalau Bu Tia ya,, asik-asik aja deh. Nama Juara harapan 3 sudah diketahui, dan itu bukan kami berdua. Harapan 2 jua, kami pun bukan. tibalah Harapan ke 1.... betapa kagetnya ana, nama ana yang barusan disebutkan...Subhanallah, Alhamdulillah. Pada perlombaan ke-sekian kali yang ana ikuti, akhirnya ana untuk pertama kalinya bisa mengharumkan nama baik sekolah ana.^^





Senang? tentunya. .alhamdulillah..hihi selain dapat plakat dan sertifikat, juga ada hadiah untuk uang pembinaan. yah lumayan untuk ditabung buat persiapan kuliah nanti. insyaAllah. oh iya, ini dia resensi buku ätas nama cinta" buah karya ana... selamat membaca...^_^

Hakikat Cinta dalam Tempurung Diskriminasi

Judul : Atas Nama Cinta – Sebuah Puisi Esai
Pengarang : Denny JA
Penerbit : ReneBook
Warna Sampul : Merah Maroon
Tebal :216 hlm.; 21x18,5 cm
(Cetakan 1: April 2012)

Eksistensi puisi menjadi hal yang sudah banyak diperbincangkan di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan pecinta puisi itu sendiri. Pembaharuan tak henti-hentinya dilakukan dalam mamajukan sastra Indonesia. Pembaharuan ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar isi puisi itu terasa hidup, bukan hanya dalam imajinasi tapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat. Pecinta sajak menjadi pembaca setia karya sastra khususnya karya sastra dalam bentuk puisi.
Telah banyak bentuk puisi yang menggunakan bahasa bersifat sangat berlebihan juga sewenang-wenang dan tidak sesuai dengan kondisi sosial dalam masyarakat luas. Hal tersebut menjadi doktrin atau pencitraan terhadap kondisi dalam masyarakat tertentu yang sebenarnya hanyalah imajinasi dari seorang sastrawan. Di satu sisi, tidak sedikit pula sastrawan yang menciptakan buah karyanya berdasarkan fakta yang berlaku dalam kehidupan sosial. Namun kerapkali unsur emosi tak dapat disembunyikan dalam bahasa puisi yang bersumber dari kehidupan masyarakat tersebut. Hal yang demikian menciptakan kejenuhan dari banyak pihak termasuk para pembaca setia sastra. Di saat seperti ini sangat diperlukan puisi yang seolah-olah dapat berbicara dan tidak terlalu berangan-angan sehingga menjadi sesuatu yang langka dan berharga untuk dibaca.
Di tengah kejenuhan sastra tersebut lahirlah sebuah inovasi dalam bentuk puisi yang menggabungkan kedua poin penting tersebut. Dengan sebutan sebagai puisi esai, Atas Nama Cinta mendapatkan sorotan dan perhatian khusus dari kalangan penyair yang sudah melegenda, seperti Sapardi Djoko Damono, serta Sutardji Calzoum Bachri. Dengan bertemakan “Cinta” yang disatukan dengan “Diskriminasi” juga “Perlawanan”, Denny JA yang merupakan seorang penulis, aktivis dan peneliti ini telah dapat menggabungkan unsur esai ke dalam bentuk puisi, sehingga tersampaikanlah sisi batin serta argumennya sebagai seorang pengamat sebuah konflik atau masalah sosial.
Dalam buku puisi-esai ini, diceritakan lima buah puisi yang memiliki kesamaan karena masing-masing puisi menceritakan tentang para korban isu diskriminasi. Selain itu, para korban dari isu diskriminasi tersebut juga selalu diperlihatkan berjuang, tak penting apakah ia menang atau kalah. Dalam sebuah kehidupan sosial masyarakat, bukanlah suatu akhir dari sebuah perjalanan atau perjuangan hidup yang menjadi inspirasi dalam perputaran kehidupan selanjutnya, melainkan nilai dari proses perlawanan itu sendiri.
“Fang Yin, kau anak Indonesia sejati
Jangan pindah menjadi warga lain negeri.”(halaman.44)
Cuplikan salah satu puisi-esai tersebut telah menggambarkan perlawanan yang dilakukan oleh Fang Yin dalam puisi-esai “Sapu Tangan Fang Yin” yang tidak ingin kembali ke Indonesia meskipun telah sangat merindu pada negerinya itu. Kisah perjalanan jatuh cinta pada Indonesia setelah sebelumnya melalui berbagai derita. Kisah yang mengungkapkan bahwa setiap orang tidak mustahil bangkit kembali dari keterpurukan yang kemudian berubah menjadi mencintai yang dibenci karena telah menguasai diri dengan keikhlasan.
“Mampus kau hati yang ragu
Hidupku tertawan kembali oleh topeng
Topeng lagi, topeng lagi…”(halaman.138)
Berbeda dengan cuplikan puisi sebelumnya, cuplikan puisi-esai di atas lebih menggambarkan ketidakmampuan untuk melawan takdir yang telah ditentukan Tuhan atas dirinya. Jati diri yang sebenarnya dimiliki oleh Amir dalam puisi-esai “Cinta Terlarang Batman dan Robin” tetap tak mampu ia ungkapkan hingga ia menyesal terhadap kehidupan selanjutnya setelah semuanya terjadi. Namun di akhir puisi-esai ini tetap diceritakan keputusan yang diambil pada akhirnya, entah itu menang ataupun kalah.
Selain kedua puisi-esai tersebut, di paparkan juga 3 puisi-esai lainnya yang tetap bertemakan “Isu Diskriminasi”, antara lain “Romi dan Yuli dari Cikeusik”, “Minah Tetap Dipancung”, serta “Bunga Kering Perpisahan”. Puisi-Esai ini telah mengangkat isu-isu yang sepanjang pengetahuan pembaca pada umumnya, belum pernah diungkapkan dalam puisi yang selama ini kita kenal, seperti isu tentang aliran tertentu, TKW, perbedaan agama, serta serta peristiwa sosial lain dalam bentuk sajak-sajak panjang lengkap dengan disertai catatan kaki. Penyertaan catatan kaki dari setiap puisi menjadikan pembaca bukan hanya menikmati setiap kisah yang diuraikan oleh lirik puisi, tetapi juga membuat pembaca memahami akan fakta serta “isu sosial” yang ada.
Penulisan dalam puisi-essay ini terkesan tidak tergesa-gesa, sehingga menjadikannya sajak yang panjang. Sepadanan larik pun telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga mendapatkan suatu kesan puitik. Dalam karya sastra ini juga tidak terlalu mengedepankan banyak metafora dari kata-kata yang digunakan. Karena memang terkadang metafora menjadikan suatu puisi hanya menjadi kumpulan kata-kata yang tidak dapat dimengerti makna sebenarnya dibuat puisi tersebut. Dan mungkin bahkan tidak diperlukan metafora dalam puisi-esai ini, karena memang rasa pada sajak-sajak ini adalah diarahkan sebagai perenungan yang tenang serta pertimbangan pikiran sebagaimana esai.
Pemaparan tentang perjuangan atas perlawanan diskriminasi dalam kehidupan sosial memiliki nilai tersendiri terhadap buku ini. Selain itu, penyelesaian dalam suatu kisah puisi-esai ini menjadi pembelajaran yang sangat mahal bagi para pembaca. Berbagai kisah dari suka hingga duka dapat tersampaikan dengan sangat hidup oleh penulis, entah itu berakhir menang ataupun kalah. Serta adanya catatan kaki semakin membuat nyata kisah puisi-esai buku ini. Hal itu meninggalkan kesan yang mendalam di ingatan pembaca. Namun, cover atau gambar burung merpati pada sampul buku ini dirasa kurang sesuai dengan tema diskriminasi yang ditonjolkan dalam puisi-esai. Meskipun dengan menyertakan tema cinta juga, tetapi gambar yang diperlihatkan pada sampul buku dirasa tidak mencakup tema keseluruhan yang diusung. Dengan mengambil jenis puisi-esai, buku ini sangat berharga untuk dijadikan referensi dalam membuat karya sastra lainnya oleh sastrawan, serta menjadi buku bacaan yang menginspirasi para pembaca, khususnya pecinta puisi itu sendiri.


Nama : Khaulah Naqiyyah Farhana
Sekolah : SMAN CMBBS Jl. Raya Pandeglang-Labuan Km.3 Kuranten, Pendeglang, Banten. PO Box61/Pandeglang 42201

Cerita mabit kita di AlAdzom, ...dulu

Waktu itu pukul lima kurang sedikit, aku kurang ingat waktu tepatnya… saat itu aku putuskan untuk membaca AlQur’an sembari menunggu maghrib untuk berbuka puasa bersama dengan semua siswa di makjid atau maktabah jadiid yang untuk sementara waktu kami jadikan sebagai tempat bernaungnya ibadah para siswa. Targetku harus tercapai di ramadhan kali ini, itu tekad yang aku putuskan sewaktu mengawali ramadhan tahun ini. Tak terasa halaman demi halaman aku baca dan akhirnya aku hanyut dengan kesibukanku membaca kitab itu. Namun sewaktu aku membaca di pertengahan suatu surah, tiba-tiba aku teringat kembali kisah sewaktu aku mengalami masa-masa kecilku, namun yang terlintas hanyalah cerita tentang kegiatan mabit yang kuikuti di masjid raya AlAdzom… waktu datang ke masjid itu aku masih duduk di madrasah ibtidaiyah atau setingkat sekolah dasar. Aku datang tidak sendiri, bersama dengan ummi, kedua adik lelakiku, temanku, adik perempuan temanku, serta umminya. Masih kuingat pakaian yang dipakai aku, temanku, serta adik perempuanku adalah baju gamis yang memiliki pola yang sama karena memang kami memesan baru gamis ini bersama-sama di teman ummi yang memang menerima pesanan jahitan. Waktu kami datang tiba-tiba ada seorang akhwat yang mengatakan seperti ini “subhanallah ada anak kembar….” Mungkin ia takjub dan mengira bahwa kami adalah anak kembar, padahal kami hanya mengenakan baju gamis yang sama. Akhirnya kami yang polos waktu itu hanya bisa senyum-senyum dan tertawa senang tanda kami bahagia disebut anak kembar. Memang sebenarnya kami itu nyaris seperti anak kembar, bahkan tanggal lahir kami kamipun sangat berdekatan yaitu hanya bertaut 2 hari pada bulan dan tahun yang sama. Dan satu yang membedakan kami adalah ia merupakan seorang kakak kelas satu tingkat di atasku. Aku sangat dekat sekali dengannya, kami seperti memiliki suatu telepati yang membuat kami kian hari semakin dekat. Sebenarnya acara mabit kali itu juga disertai dengan ruq’yah yang dipimpin oleh seorang ustadz, aku lupa waktu itu siapa nama ustadznya. Pada sore menjelang maghrib, aku bertemu dengan teman kelasku yang bernama Haikal, dari isya kami menghabiskan waktu bersama dengan bermain main di sekitar masjid bagian luar juga dengan kedua adikku dan adik perempuan Lulu, nama temanku itu. Namun kami sangat kaget saat mendengar suara banyak orang yang berbondong-bondong berusaha memasuki pintu masjid yang terasa tak muat menanggung banyak orang itu.
Astaghfirullah, ternyata ada yang bereaksi sesaat setelah seorang ustadzah membacakan beberapa ayat. Kami ketakutan saat itu karena memang dulu kami memandang itu adalah suatu hal yang menyeramkan dan menegangkan. Setelah kami semua bisa menenangkan orang yang bereaksi itu kamipun mengerti sedikitnya tentang ruq’yah dan yang menyebabkannya. Ternyata faktor pikiran dan mentallah yang paling berpengaruh dalam masalah ini. Ya, memang, karena ini akan sangat berkaitan dengan diri seseorang. Jadi pada waktu itu aku menyimpulkan bahwa aku harus menjadi seseorang yang memiliki ketahanan iman dan mental yang kuat sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam lubang keterpurukan dalam hidupku, khususnya dalam agamaku. Hmm,, hanya sekali kami mengikuti mabit yang disertai dengan ruq’yah di sana. Untuk mabit yang selanjutnya tidak pernah mengikuti yang ada ruq’yahnya, dan lagi sepertinya memang belum pernah lagi diadakan. Hmm, tapi aku teringat mabit yang lain. Ini sepertinya bukan mabit, hanya seperti pertemuan biasa antar ummat islam untuk menjalin silaturrahmi. Namun kali ini aku bertemu dengan temanku yang lain yaitu Ja’far ,tapi diawali bertemu dengan kakak lelakinya yang bernama ka Faqih serta adik perempuannya yang bernama Wafa. Lalu aku bertemu juga dengan Haikal lagi, dan juga dengan teman kelasku Azimah. Kami menghabiskan waktu itu dengan perasaan yang sungguh sangat senang.. waktu itu mungkin aku adalah anak kecil yang sangat polos yang bila bertemu dengan temanku yang lain pasti kami akan melakukan suatu permainan yang sangat menyenangkan.. teman, aku rindu waktu itu… waktu kita berkumpul bersama, …dulu.


23.00 wib
Pandeglang, 080811
Maja