#Salam------- (1)

Aku masih ingat perkenalan kita. Aku selalu menganggapnya sebagai cerita yang menarik. Ini tentang seorang akhwat yang kini sedang aktif-aktifnya di lembaga da'wah fakultas di universitas ternama di Jakarta.
Hari ini aku untuk pertama kali melihat rupa wajahnya. Ia yang lugu, polos dan sedikit pemalu. Hari ini ia memakai jilbab berwarna merah marun dengan jas almamater hitam. Untuk pertama kali juga aku menjejakkan kaki di kampusnya. Biasanya aku hanya mengisi waktu bersilaturrahim sebentar di masjid utama kampus ini, bukan ke fakultasnya.
Sekitar jam setengah tiga aku sampai di fakultasnya. Fakultas dengan warna makara putih. setelah kuparkir motor, aku langsung bergegas ke gedung tempat ia berada. Mungkinkah ia sudah menantikan kedatanganku? segalanya berjalan begitu saja. Aku yang diperkenalkan dengan sosoknya melalui kawan dekatku. Segala obrolan dan visi misi telah kami sampaikan satu sama lain. Secara garis besar aku sudah mengetahui latar belakang pendidikannya, juga tentang keluarganya. Namun percakapan itu hanya melalui teman kami dan hanya sebatas itu saja.
Kedatanganku ke kampusnya bukan semata ingin bertemu dengannya, kebetulan aku juga telah berjanji pada seorang teman untuk datang berkunjung ke sini. Dan bertepatan dengan acara fakultasnya. Dalam hati aku selalu berharap semoga niat ini tetap suci karena Allah, dan semoga Allah mempermudah setiap jalanku.
Kulangkahkan kakiku memasuki gedung itu. Ya, gedung yang kau instruksikan agar aku tidak tersasar di kampus putihmu ini. Padat. Ramai sekali antriannya. Aku tidak bisa bertemu denganmu jika terus ramai seperti ini. Akhirnya aku menyerah dan memilih untuk mengantri meskipun aku tepat berada di barisan terakhir antrian. Aku coba menelponmu, khawatir juga mengganggumu yang sudah lebih dahulu sibuk menikmati acara hari ini. Aku coba kirim pesan singkat ke nomormu. Sedikit lega karena kau membalasnya meski hanya dengan kata " tunggu ya" aku coba menelponmu lagi. Kali ini kamu angkat. Kamu mengatakan situasi di dalam sangat ramai dan bahkan sukar untuk sekedar keluar ruangan itu. Aku dengar suaramu tertahan di sana. Sepertinya sinyal tidak bisa berkompromi pada operatormu, entahlah, padahal operatorku denganmu sama.
Akhirnya aku putuskan panggilan telepon. Aku kirim pesan memberitahukan padamu aku akan sholat ashar terlebih dahulu karena baru saja adzan berkumandang. Akhirnya aku dengan temanku menuju mushola. Dalam kebingungan, aku masih sempatnya bertanya lagi padamu melalui telepon menanyakan lokasi mushola. Bodohnya aku.
Selesai sholat, aku langsung bergegas pergi keluar mushola dan bersiap mengantar temanku ke stasiun. Ia tidak jadi mengikuti acara yang diadakan fakultasmu itu. Dengan sedikit berharap kau telah ada di mushola, aku menoleh sekilas memastikan ada atau tidak adanya sosokmu di sana. Tidak ada yang menoleh kembali ke arahku. Mugkin dirimu masih di dalam gedung, pikirku. Aku langsung mengambil motor dan melintas pergi menuju stasiun kereta. Selama perjalanan hapeku terus bergetar, aku hanya tersenyum, rupanya kau mengkhawatirkanku. Langsung aku hilangkan pikiran itu jauh-jauh, khawatir mengotori niat awalku ke sini.
Aku hubungi hapemu. Kemudian kita bertemu dari kejauhan. Kau, dengan jaket almamater hitam dan jilbab merah marunmu yang melambai tertiup angin. Dalam penantianmu menunggu, dari sini aku melihatmu yang begitu anggun tersenyum melambaikan tangan padaku. Khawatir aku salah orang, kusapa kau dengan namamu. Kau tersenyum. Perlahan kau menuntunku dan menjelaskan tentang gedung yang sedang kita masuki. Kau bertanya dari mana aku singgah, aku jawab sekenanya. Hanya dua kata “Dari rumah” yang keluar dari lisanku. Perkiraanmu bahwa aku dari kampus adalah salah. Sekilas aku lihat ekspresi wajah kagetmu setelah tahu aku langsung dari rumah. Atau mungkin juga kau tidak enak hati karena lokasi rumahku dengan kampusmu yang lumayan jauh. Yah, tidak jauh juga sih, namun juga tidak dekat.

Selama waktu antrian itu, tidak ada kata yang dapat aku keluarkan. Entahlah, ada sesuatu yang menahan lisanku. Antara bingung dan menyesal, akhirnya aku putuskan untuk keluar antrian dan meninggalkanmu bersama temanmu yang masih di dalam antrian. Setelah agak jauh dari antrian, aku menoleh sekilas ke arahmu. Aku tak lihat wajah polos yang mencari-cari sosokku yang tiba-tiba hilang. Maaf aku keluar antrian tanpa bilang-bilang. Dan aku akhirnya sendiri dengan masih dalam kebingungan mencari-cari kantin karena kehausan. Mengapa aku tadi tidak bertanya padamu? 


0 komentar:

Posting Komentar