Cerita Hurun #1

Sekitar pukul sepuluh malam Hurun telah selesai dengan jadwal tahsinnya. Malam ini ia berniat akan menulis untuk deadline tulisannya yang akan segera diterbitkan. Setelah agak lama ia membaca buku yang baru saja dibelinya, ia memutuskan untuk membeli makanan kue yang biasa dijual ummi penjual kue malam itu. Sebelum itu ia mencharge netbooknya di ruang depan. Dalam hatinya, mumpung roll kabel yang digunakan adalah miliknya. Tak apa kan dia memakai satu lubang untuk keperluannya, toh masih ada dua lubang lagi yang bisa digunakan. Yah, kalaupun nanti ada yang memakai dua lubang lainnya, setidaknya ia tidak akan terganggu. Setelah mengambil piring, Hurun langsung menuju lantai atas hendak membeli beberapa kue.
                Di lantai atas, rupanya ummi baru tiba. Dilihatnya bungkusan yang masih tertata rapi di dalam kantong plastik. Langsung saja Hurun mengambil empat dadar gulung dan dipindahkan ke piringnya. Malam ini ia membeli agak banyak, sebagai tambahan dua piscok dan dua risoles. Tentunya empat tambahan kue tadi bukan untuknya. Kebetulan Hurun mendapat titipan oleh Kak Hilda, mungkin untuk sahur besok pagi. Setelah makan dua dadar gulung yang tadi sudah dipilihnya, ia tidak langsung turun ke kamarnya. Rupanya Dela juga keluar kamar untuk membeli beberapa kue ummi. Obrolan dengan ummi, Dela, dan beberapa penghuni anak kamar lantai tiga pun terjadi.
                Setelah merasa agak lelah dan mengantuk, Hurun akhirnya turun ke lantai dua. Baru saja ia berniat memulai kegiatan menulisnya, namun dia terkejut. Dilihatnya alat charger netbooknya telah lepas dari lubang roll kabel. Ahh, betapa lugunya ia. Lalu dia kembali dengan perasaan herannya melihat tempat chargernya tadi sudah digantikan oleh charger laptop yang lain, entah milik siapa. Masih dalam hati, ia terheran-heran. Siapa yang bisa dengan seegois itu mencabut chargernya? Padahal dia telah lebih dari seminggu tidak pernah mencharge netbooknya dan apakah tidak ada haknya dalam menggunakan roll kabel yang statusnya adalah miliknya? Dan ternyata, tahulah ia siapa seorang itu. Dia cukup tahu diri, pikirnya. Hurun selalu merasa dia pantas diperlakukan sebagai yang kedua, karena ia memang orang baru di asrama itu. Namun entah mengapa, emosinya agak sulit terkontrol malam itu. Kejadian tadi ia masukkan ke dalam hati, dan sakitlah batinnya menerima perlakuan seperti itu.
                Orang itu bernama Norma. Dia asli Jawa Timur. Agaknya ia akan lebih menjaga jarak dengan Norma setelah kejadian itu. Ia makin sakit hati saat melihat Norma yang dengan santainya memakai laptop di hadapannya tanpa melihat dan merasa terhadapnya. Setelah ia menenangkan dirinya sendiri terhadap kejadian tadi, dimulainya menulis. Mungkin kali ini sedikit terbawa emosi, tapi ya setidaknya ia telah mencurahkan perasaanya pada tuts keyboard. Setelah cukup stabil emosi dalam dadanya, Hurun mulai memakai headphone untuk mendengarkan lantunan nasyid. Sesekali ia selingi dengan gumaman yang selaras dengan nasyid itu, sesekali ia menampilkan senyum palsu di hadapan Norma. Ah, betapa bodohnya aku, pikirnya. Setelah menyesal dengan perasaan sia-sia yang tadi sempat dirasakannya, ia beristighfar sebanyak tiga kali. Tak akan diulanginya kesia-siaan itu, Tekadnya dalam hati. InsyaaAllah Allah akan selalu memudahkan jalanmu, Hurun.


0 komentar:

Posting Komentar